Seperti Membaca Buku yang Sama

buku

Aku pernah membaca sebuah kutipan ; ‘Ketika kau menjalani suatu hubungan kemudian kau gagal dan kau berusaha untuk kembali mengulangnya, itu sama saja seperti kau membaca buku yang sama berulang-ulang kali. Akhir dari ceritanya akan sama, takkan berubah’ 

**

Seorang pria berambut hitam tersenyum dan melambai ke arah Hyojoo. Pria itu duduk di pojok café ditemani dengan segelas iced green latte. Hyojoo tersenyum miring lalu menghampiri pria itu.

“Sudah lama ?” tanya Hyojoo.

Pria itu, Kris Wu, menatap  jam tangannya. “Baru satu jam tiga puluh menit.”

Hyojoo membesarkan matanya, terkejut. “Serius ? Kita janjian jam sembilan, kan ?” Hyojoo menatap jam tangannya. Ia janjian dengan Kris jam sembilan, dan sekarang waktu menunjukan jam sembilan lewat sepulu menit.

“Aku memang sengaja datang lebih awal. Aku ada janji dengan orang lain sebelumnya disini,” jelas Kris membuat Hyojoo manggut-manggut.

“Siapa ? Pacar ?” tanya Hyojoo membuat Kris tak bisa menyembunyikan senyumnya. Ia meminum iced green latte nya, tak menjawab pertanyaan Hyojoo.

“Mau pesan apa ?” tanya Kris.

“Minta teh saja. Aku tidak suka kopi. Dan aku berhenti minum es,” ujar Hyojoo.

“Kenapa ?” tanya Kris.

“Hm…alergi.”

Kris mengerutkan dahinya kening. “Selama kita pacaran, kau tidak pernah memberitahuku kalau kau punya alergi.”

Mendengar kalimat “selama kita pacaran” dari mulut Kris membuat Hyojoo merasa sedikit risih. Ia berusaha sebaik mungkin itu bisa bersikap normal layaknya seorang teman di depan mantan pacarnya sendiri, tapi mendengar Kris kembali mengungkit bahwa mereka dulu pernah menjalin hubungan lebih dari seorang teman benar-benar membuat Hyojoo tak nyaman.

“Kau tak pernah tanya,” balas Hyojoo lalu memangil pelayanan. Setelah memesan, pelayan cafe meninggalkan meja Hyojoo dan Kris.

“Bisa kita mulai ke bisnis ?” tanya Hyojoo yang disambut anggukan oleh Kris.

“Boleh aku liat naskahnya ?” tanya Kris.

Hyojoo mengeluarkan sebuah naskah dari dalam tasnya dan memberikannya pada Kris. Dengan tatapan serius, Kris menatap naskah  itu dan menelisik setiap kalimat yang tertulis di dalamnya. Untuk sesaat, Hyojoo terpaku menatap Kris. Wajah Kris ketika sedang serius selalu menjadi favoritnya.

“Kau yang menulis naskahnya ?”

“Ya. Dan kuharap kau bisa mempertimbangkannya untuk bermain di project ini.”

Kris menganggukan kepalanya. “Oke.”

“Oke ?”

“Ya, oke. Aku akan main,” kata Kris. “Naskahnya bagus. Tak perlu diragukan lagi.”

Hyojoo tersenyum lega. Ia tak menyangka akan semudah ini. “Terima kasih banyak, Kris. Kau benar-benar penyelamatku.”

Pelayan café datang membawakan pesanan Hyojoo yaitu lemon tea hangat.

“Kau belum cerita soal kuliahmu,” ujar Kris. “Semua lancar ?”

Hyojoo menganggukan kepalanya. Hyojoo sedang dalam proses menyusun tugas akhir dan bekerja sebagai penulis naskah lepas di sebuah rumah produksi film. Tujuannya bertemu dengan Kris hari ini adalah karena rumah produksi tempatnya bekerja akan membuat sebuah project film pendek dan menggunakan Kris sebagai aktor utamanya.

“Kenapa kau memilih untuk menjadi penulis naskah ? Bukankah selama ini kau berambisi untuk menjadi social researcher ?” tanya Kris.

Hyojoo mengedikan bahunya. “I don’t know, Kris. People change, isn’t ? Lagi pula menulis bukanlah hal yang asing bagiku. Aku sudah suka menulis sejak duduk di bangku sekolah dasar. Hanya saja, aku tak pernah punya kesempatan untuk menunjukan tulisanku pada banyak orang.”

“Ya, aku setuju. Orang-orang bisa saja berubah. Di awal ia bertekad untuk menjadi ‘a’ tapi kemudian karena ada faktor lain tekadnya berubah menjadi ‘b’.”

“Seseorang pernah bilang kepadaku  bahwa kita boleh berencana. Tapi kita tak pernah tahu apakah rencana yang kita susun dengan sedemikian rupa akan berakhir sesuai dengan apa yang kita inginkan. Dan jika gagal, yang perlu kita lakukan adalah mengulangnya kembali, atau mencari hal lain yang bisa benar-benar kau lakukan.”

“Kalau kau sendiri bagaimana ? Ketika kau gagal apa yang akan kau lakukan ? Kembali mengulangnya kembali atau mencari hal lain ?” tanya Kris.

“Tentu saja mencari hal lain. Seperti yang kulakukan saat ini. Menjadi penulis naskah dan bukannya social researcher.” Hyojoo mengangkat cangkir lemon tea hangatnya.

“Maksudku bukan  soal gagal dalam pekerjaan. Tapi gagal  dalam hubungan percintaan,” ujar Kris membuat Hyojoo terdiam dengan cangkir yang menempel pada bibirnya.

Hyojoo menatap Kris dalam diam. Ia tak tahu harus menjawab apa. Hyojoo meletakan cangkirnya di meja dan tersenyum miring.

“Aku pernah membaca sebuah kutipan ; ‘Ketika kau menjalani suatu hubungan kemudian kau gagal dan kau berusaha untuk kembali mengulangnya, itu sama saja seperti kau membaca buku yang sama berulang-ulang kali. Akhir dari ceritanya akan sama, takkan berubah‘,” ujar Hyojoo.

“Menurutmu seperti itu ?” tanya Kris.

Hyojoo menganggukan kepala.  Sementara Kris tersenyum getir.

“Ya, kau benar. Tak ada orang yang mau membaca cerita sedih untuk yang kesekian kalinya.”

“Belum tentu. Ada juga orang yang seperti itu, yang mau membaca cerita sedih untuk kesekian kalinya. Sampai-sampai ia lupa rasanya membaca cerita bahagia. Tapi kalau aku, buat apa membaca cerita sedih sampai berulang-ulang kali. Hidup itu terlalu singkat untuk bersedih. Benar, kan ?”

Kris tersenyum lebar. “Ya, kau benar.”

“Hei, Lee Hyojoo !” seru seseorang membuat Hyojoo dan Kris mengarahkan tatapan mereka kepada sosok jangkung berambut coklat yang berdiri tak jauh dari lokasi meja mereka.

“Park Chanyeol ? Sedang apa kau disini ?” tanya Hyojoo.

Chanyeol berjalan menghampiri meja Hyojoo dan Kris. Dan ketika sampai, ia langsung duduk di samping Hyojoo lalu merangkul Hyojoo.

“Mencegahmu untuk patah hati lagi,” ujar Chanyeol membuat Hyojoo melotot dan menginjak kaki pria itu.

Kris tersenyum kecil menatap tingkah dua orang yang duduk di depannya.

“Jadi kau yang namanya Chanyeol ?” tanya Kris.

Chanyeol menatap Kris dengan ekspresi tidak suka. “Ya, aku Chanyeol. Aku adalah pa…”

“Teman dekatku !” seru Hyojoo cepat-cepat sambil menutup Chanyeol dengan kedua tangannya sebelum pria itu mengatakan sesuatu yang aneh-aneh.

“Teman dekat ? Wow ! Hebat sekali,” ujar Kris.

Hyojoo tertawa sambil meringis sementara Chanyeol melepaskan tangan Hyojoo dari mulutnya.

“Kau habis megang apa, sih ? Tanganmu bau !” kata Chanyeol membuat Hyojoo mencubit perutnya keras.

Kris menatap Hyojoo dan Chanyeol dengan perasaan iri. Untuk sesaat, Kris berharap bahwa dia adalah Chanyeol.

“Aku harus segera pergi,” kata Kris.

“Kau mau kemana ?” tanya Hyojoo.

“Aku masih ada jadwal pemotretan. Akan kubaca baik-baik ini di rumah,” katanya sambil menunjuk ke arah naskah yang ada di tangannya. “Sampai jumpa, Hyojoo, Chanyeol !” Kris berdiri dari tempatnya lalu melenggang pergi meninggalkan café.

Dan ketika Kris sudah hilang dari pandangan Hyojoo, gadis itu mulai memukuli tangan Chanyeol.

“Ngapain sih kesini ?!” seru gadis itu sementara Chanyel mengaduh kesakitan.

“Aku kesini untuk mencegahmu agar tidak patah hati lagi.”

Hyojoo menghembuskan napas kesal. “Aku bisa mengatasi perasaanku sendiri. Lagi pula, aku sudah tidak ada apa-apa dengan Kris.”

“Masa ? Bagaimana kalau misalnya dia yang masih ‘ada apa-apanya’ ?” tanya Chanyeol membuat Hyojoo terdiam. Ia teringat dengan pertanyaan Kris sebelumnya.

Chanyeol yang menyadari perubahan ekspresi wajah Hyojoo bertanya, “Kenapa ? Terjadi sesuatu di antara kalian berdua ?”

Hyojoo menarik napas panjang dan menghembuskannya pelan. “Ingin tahu, saja. Sudah, aku mau pulang !” Hyojoo meraih ranselnya yang ia letakan di lantai dan pergi meninggalkan Chanyeol.

“Lee Hyojoo ! Kau harus cerita padaku ! Lee Hyojoo !” seru Chanyeol membuat semua pengunjung café menatap ke arahnya.

-End-

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s