KJ2

jb.jpg

Laut bergejolak diiringi dengan langit yang mulai menghitam. Tanda badai akan segera datang. Seluruh awak kapal mulai siaga. Bersiap menghadapi segala kemungkinan terburuk yang akan terjadi. Pulang hanya dengan nama atau terombang-ambing di lautan hingga ajal menjemput.

Jongdae terus berdoa. Kedua tangannya terkepal kuat di dada. Berharap Tuhan masih berbaik hati untuk menyelamatkan dirinya beserta awak kapal yang lain.

“Hyung !”

Jongdae menoleh dan melihat seorang laki-laki yang usianya dua tahun lebih muda darinya dengan kulihat gelap karena sering terpapar sinar matahari dan sekujur tubuh yang basah kuyup karena terguyur hujan.

“Oh, Jongin. Ada apa ?” kecemasan mulai menggerogoti Jongdae.

Jongin tak berbicara. Ia hanya mengisyaratkan Jongdae untuk keluar dari ruang kerjanya dan ikut dengannya.

Jongdae berjalan keluar dari ruang kerjanya dan mengikuti Jongin. Jongin menggiringnya menuju geladak kapal. Jongadae memperhatikan awak kapalnya mulai kelimpungan kesana kemari berusaha menyiapkan diri untuk menghadapi badai. Langit semakin gelap, laut terus bergejolak mengombang-ambingkan kapal dan tetes hujan terus turun tanpa tahu kapan berhenti.

“Hyung,” panggil Jongin membuat Jongdae menatapanya. “Apa menurutmu kita bisa selamat ?”

Jongdae adalah tipikal orang yang begitu optimis. Terutama jika sudah berlayar di lautan. Keberanian dan kecerdasan yang dimiliki Jongdae mengantarkan dia menjadi kapten termuda di angkatannya. Tapi kini, entah mengapa Jongadae merasa tidak yakin. Rasa optimis yang selalu ia miliki sirna begitu saja digantikan oleh rasa takut yang seakan mengigit habis seluruh keberaniannya.

Jongdae menatap Jongin dengan tatapan bingung. “Bersiaplah untuk yang terburuk. Dan berdoalah.”

Jongin nampak berkaca-kaca. Ia menundukan kepala. Tatapan Jongin lalu tertuju pada jari manis dimana tersemat sebuah cincin dengan sebuah inisial ‘JS’ di sana.

Jongdae menepuk bahu Jongin berusaha menguatkan. “Kuatlah Jongin. Kuatlah !”

Jongin menganggukan kepalanya lalu beranjak pergi.

Sementara itu Jongdae masih terpaku di tempatnya. Perlahan ia merogoh saku celananya. Mengeluarkan sebuah jam saku berwarna perak. Jongdae membuka jam saku berwarna perak itu dimana di dalamnya terdapat foto seorang wanita berambut ikal berwarna coklat dan seorang anak laki-laki. Air mata Jongdae tak dapat terbendung.

“Aku akan sangat merindukan kalian. Maafkan Ayah karena tak bisa kembali. Maafkan Ayah….maafkan aku….”

 

**

“Jinsook !!! Ayo makan dulu !” Oh Minji, wanita berusia tiga puluh lima tahun berseru dari arah ruang makan

Tak lama setelahnya seorang bocah laki-laki berusia tujuh tahun turun dari tangga dan berlari menuju ruang makan.

“Jinsook lapar ?” tanyanya.

Bocah laki-laki bernama Jinsook itu menganggukan kepalanya.

“Kalau begitu ayo kita makan sekarang.”

Jinsook menggelengkan kepalanya menolak. “Ibu, bisa tidak kita tunggu Ayah ? Aku ingin makan bersama Ayah.”

Minji tersenyum dan memeluk putra semata wayangnya. “Sayang, Ayah kan sedang bekerja. Jadi sekarang ia tidak bisa makan malam bersama kita.”

“Apa Ayah berada di laut lagi ?” tanya Jinsook.

“Ya, dia berada di laut.”

“Dengan Paman Jongin ?” tanya Jinsook lagi.

“Tentu saja.”

“Kalau begitu kita undang Bibi Soojung untuk makan disini,” kata Jinsook.

“Tak usah diundang. Aku sudah disini,” ujar seorang gadis berparas cantik dengan tubuh langsing dan rambut coklat sepunggung.

“Bibi !” seru Jinsook.

“Hah ? Bibi ? Panggil aku ‘kakak’. Oke ?” ujar Soojung yang langsung disambut gelak tawa oleh Jinsook dan juga Minji.

Mereka lalu duduk di meja makan. Setelah berdoa bersama, mereka mulai makan malam dengan nikmat. Tapi kemudian mereka mendengar suara bel pintu.

“Siapa yang datang di jam segini ?” tanya Minji.

“Biar aku saja yang buka,” kata Soojung lalu bergegas menuju pintu.

Minji yang penasaran pun segera bangkit dari tempatnya duduk. Ia meminta Jinsook untuk tetap berada di tempatnya dan menghabiskan makan malamnya. Setelahnya ia pergi menghampiri Soojung.

Soojung berdiri kaku di ambang pintu. Seorang pria bertubuh gempal memberikan Soojung sebuah surat. Setelah memberikan surat itu kepada Soojung pria itu pergi.

“Soojung,” panggil Minji. Tapi Soojung tetap diam membeku.

Minji menepuk bahu Soojung hingga gadis itu tersadar. Soojung menatap Minji tanpa ekspresi. Kemudian ia menyerahkan surat itu kepada Minji.

“Kau saja yang buka,” kata Soojung.

Minji menerima surat itu dan segera membukanya. Dunia seakan berputar saat Minji membaca kalimat demi kalimat yang tertera pada surat tersebut.

Soojung mengambil alih kertas tersebut dan mulai membacanya. Air matanya tak dapat terbendung ketika ia mendapati sebuah nama tercantum disana. Surat yang dipegang Soojung terjatuh.

“Tidak mungkin,” kata Minji. “Soojung, katakana padaku itu tidak mungkin.”

Soojung menatap Minji dengan mata berkaca-kaca. Ia mulai terisak. Dan tangisnya pun pecah.

Minji kembali mengambil surat itu dan kembali membacanya ;

 

GUGUR DALAM TUGAS :

  1. Kapten Kim Jongdae
  2. Letnan Kim Jongin

 

“Ibu….” panggil Jinsook yang sudah berdiri di dekat Minji.

Minji tak kuasa menatap Jinsook. Ia meraih putranya dan memeluknya erat. Sementara itu, Soojung terdiam terpaku menatap cincin dengan inisial ‘KJ’ yang tersemat di jari manisnya.

 

fin-

 

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s