The Game

369e35eaea8f617b1814758db0600188

 

Tik…tok…tik…tok…tik…tok…

Taeyong menoleh menatap jam kayu besar yang berada di pojok ruangan dengan mata melebar. Sudah jam dua pagi dan ia tak bisa tidur. Sejak dua jam yang lalu ia hanya duduk di ruang tengah dengan mata menatap lurus ke arah televisi yang tidak dinyalakan.

Ponselnya yang tergeletak di atas meja terus bergetar beberapa kali. Namun Taeyong enggan untuk mengangkatnya. Tidak, Taeyong terlalu takut untuk mengangkatnya.

“Hei  ! Belum tidur ?” Ten keluar dari kamar dengan mata setengah mengantuk.

Taeyong menggelengkan kepalanya. “Kau sendiri ?”

“Mau ke kamar mandi,” kata Ten lalu melengos menuju kamar mandi.

Taeyong menyenderkan punggungnya di sofa seraya mengusap rambutnya yang berwarna coklat. Matanya kembali menatap jam kayu yang ada di pojok ruangan. Ponselnya kembali bergetar dan membuat Taeyong sedikit berjengit kaget.

“Tak diangkat ?” Ten yang sudah keluar dari kamar mandi berkata. Ia menunjuk ke arah ponsel Taeyong di atas meja yang terus bergetar menandakan sebuah telepon masuk.

“Nomornya tidak kukenal. Tadi sudah coba kuangkat dan ternyata salah sambung. Tapi kemudian nomor itu terus menelpon,” ujar Taeyong bohong. Ia tak pernah sekalipun mengangkat teleponnya sejak panggilan pertama masuk sejam yang lalu.

“Kalau gitu matikan saja ponselmu. Kau harus pergi tidur. Besok kita akan ke Busan pagi-pagi sekali. Oh, iya ! Jangan lupa bangunkan Jhonny hyung. Kau tahu kan dia takkan bangun kalau bukan kau yang membangunkannya,” kata Ten.

“Oke,” sahut Taeyong lalu melihat Ten kembali masuk ke dalam kamarnya.

Ponsel Taeyong berhenti bergetar. Taeyong menjulurkan tangannya dan mengambil ponselnya. Ia menatap layar ponselnya yang memantulkan bayangan wajahnya sendiri. Ponsel Taeyong kembali bergetar, membuat Taeyong terlonjak kaget dan hampir saja melempar ponselnya. Tangan Taeyong bergetar. Dengan satu gerakan, ia menekan tombol ‘answer’ dan menedekatkan ponselnya ketelinga.

Welcome to the game, Taeyong. Let’s play ! Kau hanya punya waktu dua belas jam untuk menyelesaikan permainan. Jika tidak…”

Taeyong melempar ponselnya. Matanya bergerak gelisah, jantung berdegup kencang dan dadanya terasa sesak. Taeyong hampir saja berteriak ketika listrik apartemen seketika padam dan keadaan menjadi gelap gulita. Dalam gelap, Taeyong diam membeku di tempatnya. Ia sekali tak bisa bergerak. Taeyong mencoba untuk berdiri, namun kakinya terasa lemas.

Sinar merah menyilaukan tiba-tiba muncul. Taeyong memejamkan kedua matanya dan menghalau sinar merah itu dengan kedua tangannya. Perlahan Taeyong membuka matanya. Ia terkejut saat melihat sekelilinnya. Taeyong tak lagi berada di ruang televisi apartemen tempatnya tinggal bersama dengan teman-temannya. Ia berada di sebuah ruang sempit yang disinari oleh lampu bercahaya merah. Ruangan itu hanya memiliki satu jendela kecil yang dilapisi dengan jeruji besi.

Suara sirine tiba-tiba menggema di seluruh ruangan. Cahaya merah yang menerangi ruangan berkedap-kedip. Lantai marmer tempat Taeyong berdiri bergetar dan terdengar suara aneh yang berasal dari arah dinding. Dindingnya bergerak ! Ya, dindingnya bergerak mendekat ke arah Taeyong dan siap menjepitnya dari berbagai arah.

Taeyong berusaha memutar otaknya agar bisa keluar dari ruangan ini. Kemudian ia melihat jendela kecil berlapis jeruji besi. Taeyong berusaha menarik-narik jeruji besi yang melapisi jendela kecil itu. Tapi usahanya sia-sia. Taeyong berteriak dan semakin menarik jeruji besi itu dari jendela sementara dinding yang ada disekitarnya semakin mendekat dan menghimpit tubuhnya.

Tubuh Taeyong sama sekali tak bisa digerakan ketika dinding itu mulai menekan tubuhnya dari berbagai arah. Napasnya mulai sesak karena terjepit. Kepala Taeyong terasa pening, pandangan mulai kabur. Setelahnya ia tak sadarkan diri.

 

****

“LEE TAEYONG !” seru Jhonny membuat Taeyong seketika membuka matanya.

Ia terlonjak kaget dan terduduk di sofa ruang tengah. Matanya membesar menatap sekelilingnya, napasnya memburu dan jantung berdegup dengan kencang. Taeyong tak lagi berada di ruang sempit dengan tembok yang menghimpitnya. Ia berada di ruang tengah apartemen. Dan ia baru sadar bahwa rupanya ia tertidur di ruang tengah.

“Kau tidur seperti orang mati. Cepat mandi ! Kita harus segera berangkat. Ten sudah marah-marah daritadi,” kata Jhonny lalu pergi menuju dapur.

Taeyong menghembuskan napas seraya mengusap rambutnya yang sedikit basah karena keringat. Ia menemukan ponselnya yang tergeletak di atas meja. Sejenak, Taeyong merasa ragu. Ia meraih ponselnya yang ternyata dalam keadaan tidak aktif. Taeyong menekan tombol power pada ponselnya. Dan ketika ponselnya sudah dalam keadaan aktif, Taeyong mendapat sebuah pesan singkat. Taeyong membuka pesan singkat itu. Matanya melebar ketika membaca pesan singkat yang masuk di kotak pesannya dan bertuliskan…..

Game Over

END.

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s