Delusi

 

Berapa banyak orang diluar sana yang bisa bertahan di dunia tanpa ada sesuatu yang bisa membuat mereka tetap merasa hidup ? Jawabannya adalah tak satu pun. Lalu bagaimana jika sesuatu yang membuatmu tetap merasa hidup itu direnggut darimu ? Bisakah kau tetap merasa hidup ?

Lorong itu terasa begitu terang dan menyilaukan. Aku menundukan pandangan menatap marmer putih yang kupijak. Dua orang berpakaian putih dan berbau antiseptik memegang lenganku dengan kencang, mencegahku agar tidak kabur untuk yang kesekian kalinya. Langkahku terhenti ketika dua orang disampingku menghentikan langkahnya. Sebuah ruangan segi empat dengan pintu besi, dua orang itu memasukanku ke dalam sana, melepas borgol yang berada di tanganku dan mengunciku di dalam ruangan.

Aku masih tak mengerti apa yang dipikirkan oleh orang-orang itu ? Mengapa mereka membawaku kesini ? Apa yang salah denganku ?

Aku terduduk di atas lantai marmer berwarna putih yang terasa begitu dingin. Aku rindu rumahku yang hangat di Beverly Hills.

“Sarah….Sarah…” suara lembut memanggil namaku. Aku mengarahkan pandangan ke sekeliling ruangan. Tak ada siapapun.

“Aku disini, sayang. Sarah…”

“Siapa kau ? Dimana kau ?”

Close your eyes, darling And you’ll see me.”

Aku terdiam kaku di tempatku.

Come on sweet heart. Just close your eyes, and you’ll see me.”

Aku menarik napas panjang dan mulai memejamkan mataku selama beberapa saat. Setelahnya aku membuka mataku. Di depanku sesosok pria berambut coklat duduk dengan senyum tersungging di bibirnya.

“Benarkan ? Kau bisa melihatku lagi.”

Tanpa sadar kedua sudut bibirku tertarik. “Chen.”

You just need close your eyes, Sarah. And you’ll see me.”

 

-oo-

“Dr. Kim ! Dr. Kim !”

Xiumin menghentikan langkahnya ketika namanya dipanggil. Ia berbalik dan mendapati seorang wanita berusia dua puluh lima tahun mengejarnya.

“Apa ?” tanya Xiumin seraya melepaskan lollipop yang berada di mulutnya.

“Anda harus melihat ini. Ini adalah profil dari pasien baru di rumah sakit ii. Dan Anda ditugaskan untuk menanganinya.”

Dahi Xiumin berkerut. Ia menatap masam file yang ada di tangan wanita itu. Padahal ia ingin segera pulang. Tapi sepertinya ia harus menahan keinginan itu. Xiumin mengambil file itu dan membukanya.

“Dimana dia ?” tanya Xiumin ketika melihat profil pasien yang ada di dalam file.

“Dia diruangannya sekarang.”

“Kalau begitu bawa aku kesana sekarang.”

Xiumin melangkahkan kakinya dengan cepat diikuti oleh wanita yang memberinya file. Mereka sampai di bagian ruang perawatan rumah sakit jiwa. Wanita itu lalu menunjukan ruangan dimana pasien baru itu berada.

“Itu dia, Sarah Lim,” ujar wanita itu.

“Dia kenapa ? Apa yang membuatnya sakit ?” tanya Xiumin.

“Tunangannya, Chen Kim, meninggal dua tahun lalu. Setelah itu ia mulai berhalusinasi bahwa tunangannya masih hidup.”

Xiumin mengangguk paham. Ia memberikan file yang ada di tangannya pada wanita itu kemudian mengintip ke dalam ruangan dimana Sarah Lim berada lewat kaca jendela.

“Keluarganya terlalu putus asa karena tak bisa menyembuhkannya. Apa menurutmu dia bisa sembuh, Dok ?”

Xiumin menyunggingkan senyumannya. “Kalau menurutmu ?” Xiumin balik bertanya. Pandangannya tak bisa lepas dari sosok gadis yang kini tengah menjadi sorot utamanya.

Sarah Lim.

 

….

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s