Drunk

large-9

 

 

Yes ! I knew it ! I knew it ! Hahahaahaahahaha !” Hyojoo melonjak kegirangan saat mengetahui siapa psycho yang ada di dalam karakter game yang ia mainkan.

Chanyeol mendengus dan menatap Hyojoo dengan mata menyipit. Sudah satu jam yang lalu ia sampai di rumah Hyojoo untuk menjemput gadis itu lalu pergi nonton. Dan tebak apa yang Chanyeol dapatkan ketika ia sampai di rumah Hyojoo ? Gadis itu sedang bermain Until Dawn ditambah dengan kaus lusuh kebesaran dan celana training yang masih menempel di tubuhnya.

“Aku bilang akan menjemputmu jam enam. Coba lihat sekarang jam berapa,” ujar Chanyeol seraya menunjukan arlojinya tepat di depan wajah Hyojoo.

“Sabar. Satu chapter lagi, setelah itu aku pergi mandi.”

“Kau belum mandi ?! Dari pagi ?!” Chanyeol membulatkan matanya sementara Hyojoo tersenyum lebar dan mencium aroma tubunya sendiri.

“Gak bau, kok.”

Chanyeol tertawa skeptis. Bagaimana bisa ia tahan dengan gadis ini ? Oh, ya Tuhan. Chanyeol benar-benar rindu sosok Hyojoo yang dulu. Hyojoo yang mandi tiga kali sehari, Hyojoo yang benci game dan Hyojoo yang lebih melampiaskan emosinya dengan menangis dibandingkan dengan bermain game.

“Mandi, sana ! Mandi !” Chanyeol mendorong-dorong Hyojoo.

“Oke ! Oke ! Aku mandi !” Hyojoo meletakan stick PS4 di atas meja dan beranjak dari tempatnya.

“Sepuluh menit !” seru Chanyeol.

“Aku hanya butuh tujuh menit ! Kau bisa menghitungnya dengan timer.” balas Hyojoo.

Chanyeol mengeluarkan ponselnya dan mulai memasang timer. “Oke, tujuh menit.”

Hyojoo kembali ke ruang tengah dan sudah siap bahkan sebelum tujuh menit. Chanyeol menatap gadis itu curiga karena jangan-jangan dia belum mandi.

“Kau yakin sudah mandi ?” tanya Chanyeol penuh selidik.

“Sudah, kok !”

Chanyeol masih menatap Hyojoo dari ujung kepala hingga ujung kaki. Gadis itu mengenakan jeans dan kaus berwarna abu-abu yang dipadankan dengan cardigan berwarna biru tua.

“Baiklah. Ayo kita jalan !”

**

Hyojoo duduk di kursi ruang tunggu bioskop sementara Chanyeol membeli tiket. Mereka sepakat untuk menonton serial superhero yang sudah lama Hyojoo nantikan.Chanyeol kembali dengan dua tiket, satu bucket besar pop corn dan satu gelas tinggi coke.

“Kenapa cuma beli satu ?” tanya Hyojoo ketika Chanyeol menyerahkan gelas coke padanya.

“Biar romantis,” kata Chanyeol sambil mengedipkan matanya dan membuat Hyojoo tertawa.

“Minum dari satu sedotan yang sama dan berbagi air liur bukan hal yang romantis, tahu ? Itu menjijikan.”

“Berciuman juga berbagi air liur. Dan itu romantis.”

Hyojoo melemparkan tatapan tajam ke arah Chanyeol. “Seriously, Park Chanyeol.”

“Mau kucium ?” Chanyeol mendekatkan wajahnya ke arah Hyojoo, dan Hyojoo langsung mendorong wajah Chanyeol jauh-jauh.

“Stop ! Stop ! Stop !” seru Hyojoo.

Di dalam teater bioskop, Hyojoo begitu serius menonton film yang di tayangkan. Sementara Chanyeol sibuk menghabiskan pop corn dan coke yang ia beli tanpa sedikit pun berpikir untuk membaginya dengan Hyojoo. Ketika Hyojoo hendak meminta coke nya, coke itu sudah tandas dan membuat Hyojoo jengkel setengah mati. Sepertinya ia harus menahan haus hingga film berakhir.

“Romantis apanya ? Aku bahkan sama sekali tak minum cokenya !” protes Hyojoo ketika mereka keluar dari teater bioskop.

“Maaf. Kupikir kau jijik karena minum dengan sedotan yang sama denganku dan berbagi air liur,” kata Chanyeol berusaha mencari alasan.

“Terserahlah !” Hyojoo mengibaskan tangannya.

“Hei, jangan marah. Kutraktir di restoran ayam. Oke ?” bujuk Chanyeol sambil melingkarkan tangannya di pundak Hyojoo.

“Lee Hyojoo,”

Chanyeol dan Hyojoo menatap ke arah seorang pria bertubuh tinggi dengan rambut hitam yang ada di depan mereka. Chanyeol terkejut ketika melihat siapa sosok yang di depannya yang memanggil nama Hyojoo. Ia lalu menoleh ke arah Hyojoo dan mendapati gadis itu diam membeku.

“Lama tak jumpa,” kata pria itu lagi.

Chanyeol melihat tangan Hyojoo mengepal di kedua sisi tubuhnya.

“Hai, Kris ! Lama tak jumpa.”

 

**

Hyojoo hanya menatap ayam di depannya dengan tatapan kosong. Selepas bertemu dengan Kris, pria yang pernah mengisi hati Hyojoo selama tiga tahun, gadis itu lebih banyak diam.

Chanyeol mendorong kaleng coke yang ada di atas meja ke arah Hyojoo. “Kau baik-baik saja ?”

Hyojoo menatap Chanyeol dan tersenyum tipis. Ia mengedikan bahu dan meminum coke nya.

“Kau tahu, Hyojoo ? Itulah jeleknya kau. Kau tipikal yang susah move on tahu ?”

Hyojoo tertawa miris. “Yeah, aku tahu Chanyeol. Terima kasih sudah mengingatkan kejelekanku.”

Chanyeol mendengus. Ia berdiri dari tempatnya dan menarik tangan Hyojoo. “Ayo !”

“Mau kemana ?”

“Ke apartemenku.”

“Heh ? Buat apa ? Ini sudah malam.”

“Sudah cepat ayo ikut !”

“Ah, tidak mau !”

“Kau mau kuajari move on tidak ?”

“Aku sudah move on, kok !”

Chanyeol menggaruk kepalanya frustasi. “Please, Lee Hyojoo. Sekali saja dengar perkataanku. Oke ?”

**

Mampir ke apartemen Chanyeol sebenarnya bukan keputusan yang bijak. Ini sudah pukul sebelas malam. Dan tidak seharusnya seorang gadis bertandang ke rumah seorang pria selarut ini. Tapi nyatanya Hyojoo mengikuti pria itu dan duduk di sofa yang ada di apartemen Chanyeol.

Untuk ukuran seorang pria, Chanyeol lumayan rapih dalam menata tempat tinggalnya sendiri. Terhitung sudah tiga kali Hyojoo mengunjungi tempat tinggal Chanyeol. Tapi gadis itu tak pernah tinggal lebih dari sepuluh menit.

Chanyeol keluar dari kamarnya seraya membawa sebuah laptop dan headset di tangannya. Chanyeol duduk di samping Hyojoo lalu mulai mengutak-atik laptopnya. Setelah itu ia memasangkan headset di kedua telinga Hyojoo.

“Diam dan dengarkan,” kata Chanyeol.

Hyojoo mulai mendengar sebuah lagu mengalun di telinganya dan suara Chanyeol menggema di kepalanya.

“Kau yang membuatnya ?” tanya Hyojoo.

Chanyeol meletakan jari telunjuknya di bibir dan telinga. Mengisyaratkan Hyojoo untuk diam dan mendengarkan lagunya.

Hyojoo terdiam dan meresapi setiap lirik yang dinyanyikan oleh Chanyeol. Ia tak tahu harus berkata apa. Tapi setiap lirik yang Chanyeol nyanyikan benar-benar membuatnya ingin menangis. Ketika lagu selesai, Hyojoo melepaskan headset dari kedua telinganya. Matanya mulai berkaca-kaca.

“Judulnya apa ?” tanya Hyojoo.

Butterfly Effect,” jawab Chanyeol.

“Kau mau membuatku move on atau membuatku terus terjebak masa lalu sih sebenarnya ? Lagumu itu benar-benar menamparku, tahu !”

Chanyeol terkekeh. “Kau tahu  Hyojoo, kupikir akan lebih jika kau tak menghindari dia. Semakin kau berusaha menghindari dia, semakin sulit pula kau melupakannya.”

“Sebenarnya aku tak berusaha menghindari dia. Hanya saja,” Hyojoo menghela napas berat. “hanya saja aku takut kalau perasaan itu kembali muncul. Dan itu akan membuatku semakin sulit untuk melepasnya.”

“Saranku, nih yaa. Akan lebih baik jika kau memulai hubungan baru.”

“Dengan siapa ?”

“Denganku.”

Hyojoo tertawa terbahak-bahak. “Yeah, terserah.”

“Aku takkan pernah mengecewakanmu, Hyojoo.”

Hyojoo tersenyum geli dan menatap Chanyeol. “Benarkah ?”

“Serius !”

“Kalau sampai aku patah hati gara-gara kau bagaimana ?”

“Hm…potong telingaku.”

“Heol~ Jangan sembarangan ngomong.”

Chanyeol hanya tertawa. “Eh, mau es krim ?” tawarnya.

“Coklat dan green tea.”

“Kalau begitu aku keluar sebentar. Kau tunggu disini. Oke ?”

Hyojoo menganggukan kepalanya sementara Chanyeol beranjak pergi dari apartemennya dan meninggalkan Hyojoo sendiri. Hyojoo mulai mengutak atik laptop Chanyeol dan menyetel lagu yang ada di playlist. Ia kemudian membuka sebuah folder yang berisi foto-foto dirinya bersama Chanyeol. Hyojoo tak bisa menahan tawanya saat melihat foto Chanyeol dengan baju basah kuyup dan muka penuh krim kue. Foto di ambil ketika Chanyeol ulang tahun.

Merasa bosan, Hyojoo mulai berjalan mengelilingi apartemen Chanyeol yang tidak terlalu besar, namun nyaman. Hyojoo sampai di depan pintu kamar Chanyeol. Ia membuka pintunya pelan dan mengintip ke dalam. Setelah itu Hyojoo pergi ke dapur apartemen Chanyeol. Hyojoo mengambil sebuah gelas lalu membuka kulkas dan mengambil botol yang berisi air lalu menuangkannya ke dalam gelas. Ditegukan pertama Hyojoo merasa aneh dengan rasa air yang ia minum. Air yang ia minum terasa agak pahit dan baunya begitu menyengat.

“Hyojoo !” terdengar suara Chanyeol yang ternyata sudah kembali.

Hyojoo meletakan gelasnya di atas meja dan berjalan menghampiri Chanyeol. Entah kenapa kepalanya terasa berputar.

“Ini ice cream nya. Coklat dan grean tea.” Chanyeol memberikan kantung plastik berwarna bening berisi ice cream kepada Hyojoo.

Hyojoo menerima kantung plastik itu. Kepalanya kembali terasa berputar, pipinya memanas dan perutnya mual.

“Chanyeol, air yang ada di kulkasmu rasanya aneh,” kata Hyojoo.

“Air ?” tanya Chanyeol tak mengerti.

“Iya, air yang di kulkas. Aku tadi habis minum. Terus rasa airnya aneh.” Hyojoo mulai merasa pandangannya kabur.

Chanyeol mulai berpikir keras. Air apa yang dimaksud Hyojoo ? Kemudian matanya mebelalak lebar. Ia melesat ke arah dapur dan menemukan sebuah botol serta gelas yang ada di atas meja. Chanyeol mencium aroma alkohol yang begitu kuat dari dalam botol.

“Hei, Lee Hyojoo ! Tadi kau minum…” belum sempat Chanyeol melanjutkan perkataannya, ia melihat Hyojoo tergelatak di atas lantai tak sadarkan diri.

“Hyojoo ! Hyojoo bangun ! Hyojoo !” seru Chanyeol seraya menepuk-nepuk pelan pipi Hyojoo yang mulai memerah. Sudah jelas gadis ini mabuk karena yang ia minum barusan bukanlah air, tapi soju milik salah seorang temannya yang sengaja dimasukan ke dalam botol air mineral.

Hyojoo membuka matanya perlahan. Ia menatap Chanyeol dengan mata setengah terbuka. Ia tersenyum lalu tertawa pelan.

“Oh, Park Chanyeol ! Ya ampun kau lucu sekali !” Hyojoo menepuk-nepuk pipi Chanyeol lalu mencubitnya dengan keras.

“Arghh ! Hei, Lee Hyojoo ! Sakit !”

Selepas mencubit pipi Chanyeol, Hyojoo tiba-tiba memeluk Chanyeol dengan erat sambil meracau.

“Chanyeol…kau tahu,” ujar Hyojoo.

Chanyeol hanya menghela napas. Ia melepaskan pelukan Hyojoo dan menatap wajah gadis itu yang sepenuhnya sudah memerah.

“Hyojoo,  you are drunk,” kata Chanyeol.

Drunk ? Am I ?

Chanyeol menganggukan kepalanya. “Yes, you are. Oh, ya ampun ! Kau tidak bisa memebedakan ya mana yang air mineral dan mana yang alkohol ?”

Hyojoo tak menjawab karena ia mulai cegukan. “Chanyeol…”

“Apa ?”

“Mau muntah.”

Chanyeol mendesah pasrah. “Oh, ya ampun !”

            Hyojoo mulai menutup mulutnya dengan tangan. Perutnya mulai bereaksi. Chanyeol pun segera membopong tubuh Hyojoo dan pergi menuju kamar mandi. Chanyeol membuka penutup toilet dan Hyojoo langsung menumpahkan seluruh isi perutnya. Dan setelahnya Hyojoo tergeletak di lantai kamar mandi tak sadarkan diri. Sementara Chanyeol hanya bisa menggaruk-garuk kepalanya sambil menghela napas. Ia bersumpah tidak akan membiarkan Hyojoo menyentuh alkohol lagi.

end

akhir-akhir ini lagi suka bikin cerita yang sebenarnya cuma sebagai pelampiasan khayalan yang tak berujung. ini dibikin dalam waktu singkat, ngetik di hape pas lagi di transjakarta. kalau biasanya aku masangin Hyojoo sama Kris, kali ini pengen masangin Hyojoo sama Chanyeol. Kalau ditanya alasannya….hm…mungkin karena aku jenuh kali yaa. Dan kedepan aku bakal bikin ff project dengan cast Chanyeol Hyojoo yang entah kapan bakal terealisasikan *padahal udah nulis sinopsis panjang lebar sampe ending* wkwkwkwkw.

Advertisements

2 thoughts on “Drunk

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s