Butterfly Effect

 

tumblr_nllxzhdHlc1qex7u2o1_500

perubahan sekecil apapun yang kita lakukan akan berdampak pada masa depan

 

Hyojoo bukan tipikal orang yang suka dengan video game. Ia tipikal yang tidak suka kalah dalam permainan. Satu-satunya game yang ia mainkan selama hampir dua puluh tahun hidupnya hanyalah The Sims. Karena dengan bermain The Sims ia tidak harus merasakan kalah atau menang. Tapi semua berubah saat ia mengenal sebuah video game yang direkomendasikan oleh seseorang kepadanya. Dan video game itu bernama Until Dawn.

“Kau bukan tipikal gamers yang menghabiskan waktu di depan layar televisi di hari libur,” kata Chanyeol seraya duduk di samping Hyojoo yang nampak serius menekuni layar televisi. Tangannya memegang stick PS4 dengan kedua ibu jari yang sibuk menekan tombol ini dan itu.

“Diam. Aku sedang dilemma,” kata Hyojoo.

Chanyeol mengerutkan dahi lalu ikut menatap layar televisi dimana karakter game yang sedang Hyojoo mainkan disuruh untuk membuat pilihan untuk menyelamatkan salah satu karakter games yang ada.

“Selamatkan saja Josh,” kata Chanyeol yang ketika melihat nama salah satu karakter games yang harus diselamatkan di layar televisi.

“Aku tak suka Josh. Dia terlalu penuh misteri dan juga menyebalkan.”

“Kalau begitu selamatkan Ashley,” kata Chanyeol lagi sambil menunjuk ke arah karakter games satunya yang harus diselamatkan.

“Dan membiarkan Josh mati ? Itu bukan pilihan yang bijak.”

Chanyeol mendengus. “Lalu kau pilih yang mana ?”

“Bisa diam tidak ? Aku sedang berpikir.” Hyojoo mengerutkan keningnya sementara Chanyeol mendengus dan mulai meraih bungkus keripik kentang lalu memakannya.

“Okee.” Hyojoo menarik napas panjang dan mulai memilih siapa yang akan dia selamatkan.

Chanyeol melongo ketika melihat layar televisi. Josh, salah satu karakter games yang harus diselamatkan mati dengan tubuh terbelah menjadi dua.

“Ini permainan apa, sih ? Matikan ! Matikan !” Chanyeol berusaha merebut stick yang ada di tangan Hyojoo.

“Apa-apaan, sih ?!” protes Hyojoo dan berusaha menjauhkan stick yang ia pegang dari Chanyeol.

“Ini namanya sadis,” kata Chanyeol sementara Hyojoo hanya mengedikan bahunya dan lanjut bermain.

“Kau tahu, aku sangat suka permainan ini,” kata Chanyeol.

Chanyeol tak mengubris omongan Hyojoo dan hanya diam menatap layar televise sambil berharap tak ada hal aneh lainnya yang muncul.

“Kau tak tanya kenapa aku suka permainan ini ?” ujar Hyojoo.

“Haruskah aku bertanya ?” tutur Chanyeol tak suka.

“Ada sebuah teori dalam permainan ini dan aku sangat menyukainya.”

“Teori apa ?” tanya Chanyeol.

Butterfly effect. Kau tahu, teori mengenai perubahan sekecil apapun yang kita lakukan akan berdampak pada masa depan. Dalam permainan ini, kita diharuskan memilih. Tindakan sekecil apapun yang kita akan lakukan akan mempengaruhi masa depan dari setiap karakter game di dalamnya,” jelas Hyojoo.

“Aku masih belum mengerti,” ujar Chanyeol.

“Intinya, tindakan apapun yang kau buat sekarang, sekecil apapun itu akan berdampak pada masa depanmu,” kata Hyojoo.

Chanyeol menganggukan kepalanya. Walaupun sebenarnya dia belum seratus persen paham.

“Teori butterfly effect membuatku sepenuhnya sadar bahwa aku harus memikirkan secara matang keputusan, pilihan dan tindakan yang kupilih.”

“Contohnya ?”

Hyojoo menekan tombol pause dan berhenti bermain. Ia meletakan stick yang ia pegang di atas meja lalu menatap Chanyeol.

“Contohnya seperti memilih untuk jatuh cinta pada seseorang.”

Chanyeol terdiam.

“Aku memang tak seratus persen yakin apakah keputusanku untuk kembali jatuh cinta adalah hal yang tepat. Tapi ini adalah hal yang menjadi pilihanku. Terlepas bagaimana nanti apa yang akan terjadi di masa depan, apakah aku akan kembali kecewa atau tidak.”

Chanyeol tersenyum miring. “Aku takkan mengecewakanmu.”

Hyojoo terkekeh. “Benarkah ?”

“Aku janji.”

Hyojoo menggelengkan kepalanya. “Jangan. Janji terkadang bisa menjadi boomerang bagi dirimu sendiri karena kau tak bisa menepatinya.”

“Kau bisa mempercayaiku, Hyojoo.”

“Aku tak bisa percaya pada siapapun. Dan kau tahu itu.”

Hyojoo mengambil stick yang ia letakan di atas meja dan mulai kembali bermain. Sementara Chanyeol masih diam di tempatnya menatap Hyojoo.

Ponsel Chanyeol bergetar tanda sebuah pesan masuk. Ia mengecek pesan yang ia terima dan sadar bahwa ia harus segera pergi untuk urusan pekerjaan.

“Aku harus pergi. Pekerjaan memanggil.”

Hyojoo menganggukan kepalanya. “Minggu depan jadi nonton ?”

“Tentu. Kujemput jam setengah tujuh.”

“Oke,” sahut Hyojoo tanpa mengalihkan tatapannya dari layar televisi. Lagi-lagi dahinya mengkerut karena terlalu serius bermain.

Chanyeol beranjak dari tempatnya. Ia mengenakan jaket yang ia letakan di sofa ruang tengah rumah Hyojoo. Chanyeol hendak beranjak dari ruang tengah dan pergi meninggalkan rumah Hyojoo. Sampai ia terpikir suatu hal.

“Kau tahu, Hyojoo. Terkadang kau hanya perlu keberanian untuk mempercayai seseorang. Dan kau harus memiliki keberanian untuk mempercayaiku. Karena aku mempercayaimu,” kata Chanyeol lalu pergi melenggang meninggalkan Hyojoo sendirian.

Hyojoo meletakan sticknya kembali di atas meja dan berpikir mengenai kalimat yang baru saja dilontarkan oleh Chanyeol. Apa dia punya keberanian untuk mempercayainya ? Entahlah, dia tak tahu. Karena Hyojoo terlalu pengecut dan ia tak memiliki keberanian untuk mempercayai siapapun, termasuk dirinya sendiri.

end-

Lagi seneng banget yaa liat video para gamers di youtube. Hahaha. Buat yang penasaran apa sih itu game Until Dawn, kalian bisa liat di link ini : Until Dawn

Asli yaa, liat video game ini berasa nonton film. Sayang yaa gak punya PS4, jadi gak bisa main xD

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s