Watching You

kai-krystal-w-korea-2.jpg

 

“Aku selalu mengawasimu

 

 

Hanya ada satu kalimat yang terpatri di kepala Jongin ketika ia pertama kali melihat gadis berambut hitam kecoklatan itu lewat di depan rumahnya. Dia cantik. Ya, dia cantik. Sangat cantik malah. Saking cantiknya sampai-sampai membuat hati Jongin saat pertama kali melihatnya di usia delapan tahun berdebar. Dan gadis itu bernama Jung Soojung.

Tiga belas tahun sudah Soojung pindah dari San Fransisco ke Seoul kemudian menempati rumah yang ada berada tepat di sebrang rumah Jongin. Dan selama tiga belas tahun pula Jongin terus mengawasi gerak-gerik Soojung dari jendela kamarnya yang berada di lantai dua.

Jongin memang tak pernah mengenal Soojung secara resmi. Ia sama sekali tak pernah berbicara secara langsung walaupun mereka tinggal bertetangga dan seringkali bertemu dalam berbagai kesempatan. Dari sekolah dasar hingga sekolah menengah atas, Jongin satu sekolah dengan Soojung.  Tapi Jongin sama sekali tak pernah memiliki kesempatan untuk mendekati Soojung. Soojung termaksud gadis populer yang disegani para siswa di sekolahnya. Hal itu membuat Jongin semakin sulit untuk mendapatkan kesempatan berbicara dengan Soojung.

Sampai mereka lulus dan sama-sama dinobatkan sebagai siswa lulusan terbaik, Jongin sama sekali tak memiliki kesempatan itu. Bahkan di upacara kelulusan saat mereka berdiri bersama di podium untuk memberikan pidato mereka, Jongin sama sekali tak berani menyapa Soojung atau hanya sekedar mengucapkan kata “Hai” padanya. Jongin terlalu pengecut.

Jongin diterima di Seoul University setelah lulus. Sementar Soojung pergi ke California untuk melanjutkan studinya di Barkeley. Dua tahun berlalu dan Jongin sama sekali tak pernah bertemu dengan Soojung lagi. Saat liburan musim panas atau libur Natal, Jongin tak pernah sekali pun melihat Soojung pulang. Rumah Soojung terlihat sepi dan hanya terlihat kakaknya, Jung Sooyeon yang keluar rumah di pagi hari kemudian pulang larut malam.

Sampai suatu malam di musim dingin, ketika Jongin sedang menikmati libur natal dengan berdiri di sisi jendela kamar tidurnya menatap salju yang turun di malam natal. Jongin melihat Soojung untuk pertama kalinya sejak dua tahun terakhir. Jantungnya masih berdebar saat melihat gadis itu yang keluar dari taksi dengan membawa koper besar dan ransel. Sebuah mantel berwarna merah serta syal dari wol membalut dan melindungi tubuhnya dari cuaca dingin yang menusuk.

Jongin terus memperhatikan Soojung yang terdiam sebentar di depan pintu rumahnya. Sebelum akhirnya ia mengetuk pelan pintu rumahnya. Sooyeon, kakak Soojung, menyambutnya dengan sebuah pelukan hangat lalu masuk ke dalam rumah.

Tanpa sadar, Jongin tersenyum ketika bisa kembali melihat Soojung. Sensasi hangat dan berdebar yang selalu melingkupinya dulu saat melihat Soojung kini kembali ia rasakan. Ini akan menjadi libur natal dan musim dingin terhangat yang pernah Jongin miliki selama ini.

 

-OoO-

 

Jongin bangun pagi-pagi sekali ketika kakaknya beteriak bahwa sarapan sudah siap. Hari ini hari Natal dan semua orang bangun pagi-pagi untuk sarapan bersama dan membuka hadiah mereka masing-masing. Dengan malas, Jongin beringsut turun dari tempat tidurnya dan berjalan menuju kamar mandi.

Eomma, kau lihat sweater-ku yang berwarna coklat ?!” seru Jongin ketika keluar dari kamar mandi dengan hanya menggunakan celana katun berwarna krem.

Eomma !” seru Jongin lagi tapi ia sama sekali tak mendapat jawaban.

Jongin pun memutuskan untuk turun ke bawah untuk mencari sweater nya. Tak peduli jika ia hanya menggunakan celana katun tanpa dan bertelanjang dada. Toh, meskipun populasi di keluarga ini kebanyakan adalah wanita—Jongin punya dua kakak perempuan, ditambah ibunya jadi di keluarga ini ada tiga orang wanita— para kakak perempuan maupun ibu Jongin tak mempermasalahkan laki-laki berkulit agak coklat itu berkeliaran keliling rumah dengan bertelanjang dada.

Jongin sampai di tangga terakhir dan hendak melangkah menuju dapur mencari ibunya. Kemudian ia terkejut setengah mati saat mendapati ibu, kedua kakak perempuan serta ayahnya duduk di kursi meja makan bersama dua orang gadis yang Jongin tahu tinggal di depan rumahnya. Dua gadis itu adalah Jung Sooyeon dan adiknya….Jung Soojung.

“Hai, Jongin,” sapa Soojung membuat Jongin kelabakan dan berlari ketika sadar bahwa ia bertelanjang dada dan hanya mengenakan celana katun. Ia berlari menuju kamarnya dan cepat-cepat membuka lemari dan mengambil pakaian apapun yang berhasil ia raih. Persetan dengan sweater coklat baru miliknya ia rencanakan pakai di pagi hari Natal.

Jongin menata rambutnya yang sedikit berantakan. Kemudian ia membubuhkan banyak-banyak cologne keseluruh tubunya. Hal itu membuat Jongin seperti habis mandi cologne. Setelahnya, ia kembali melesat turun kebawah.

Soojung masih berada disana. Duduk disamping kakaknya dan tersenyum seraya menanggapi ucapan kakak perempuan Jongin. Mata Soojung lalu tertuju pada Jongin yang masih berdiri. Dengan gerakan kikuk, Jongin duduk di kursi meja makan untuk bergabung bersama dengan keluarganya. Senyum terus terpatri di bibir tipis Soojung. Senyumnya sangat manis. Lebih manis dibandingkan cotton candy kesukaan Jongin.

Pagi itu mereka sarapan bersama di ruang makan keluarga Jongin. Jongin tak bisa berhenti melirik ke arah Soojung yang terlihat begitu akrab mengobrol dengan kakak perempuan Jongin. Beberapa kali gadis itu tertawa dan tersenyum ketika mendengar celotehan kakak perempuan Jongin. Melihat senyum Soojung membuat kedua sudut bibir Jongin ikut tertarik.

“Hei, mau ngobrol sebentar ?” tanya Soojung ketika mereka selesai makan.

Jongin terdiam sebentar seraya berpikir karena tak percaya bahwa Soojung mengajaknya mengobrol.

“Boleh,” sahut Jongin dengan nada sedikit kikuk membuat Soojung terkekeh pelan.

Jongin mengajak Soojung naik ke lantai dua. Jongin membiarkan Soojung berjalan di depannya menaiki tangga.

“Kamarmu dimana ?” tanya Soojung.

“Disebelah sana,” Jongin menunjuk ke arah sebuah pintu yang ada di lantai dua.

Soojung melangkahkan kakinya menuju pintu kamar Jongin dan masuk kedalamnya. Entah apa reaksi Soojung ketika memasuki kamar Jongin yang terlihat seperti kapal pecah. Jongin hanya bisa meringis dan merutuki dirinya sendiri karena tak pernah membereskan kamarnya.

“Kamarmu bagus,” begitu reaksi Soojung ketika memasuki kamar Jongin.

Jongin tersenyum kaku dan menggaruk tengkuknya. Ia terus memperhatikan Soojung yang mulai mengitari kamarnya. Gadis itu lalu berjalan mendekati jendela. Soojung menyibak tirai kamar Jongin membuat kamar Jongin dibanjiri cahaya mentari pagi di musim dingin.

“Kau juga bisa melihat semuanya dari sini,” kata Soojung membuat Jongin bingung.

“Heh ?”

“Aku juga bisa melihat semuanya dari jendela kamarku yang ada disana,” Soojung menunjuk ke arah jendela kamarnya yang berada tepat di sebrang rumah Jongin.

“Jadi, apa saja yang sudah kau lihat ?” tanya Soojung.

“Maksudnya ?” Jongin balik bertanya.

“Kalau aku sudah melihat semuanya. Termaksud kebiasaanmu tiap malam yang suka menari-menari sendiri atau meniru gaya Bruce Lee.”

Mata Jongin membesar. “Kau mengintip, ya ?”

Soojung tertawa. “Kau juga melakukan hal yang sama. Kau juga mengintipku. Atau lebih tepatnya….mengawasi.”

Ya, Jongin memang sering memperhatikan Soojung dari jendela kamarnya. Soojung tak pernah menutup tirainya sehingga Jongin bisa melihat segala aktivitas yang Soojung lakukan di kamarnya.

Suasana berubah menjadi canggung. Soojung terus memperhatikan Jongin dengan senyum miring dan tangan yang terlipat di dada. Sementara Jongin terlihat salah tingkah.

“Kenapa kau tak pernah menyapa atau mengajakku berbicara ? Padahal sudah bertahun-tahun kita bertetangga dan kita selalu pergi ke sekolah yang sama sejak sekolah dasar hingga sekolah menengah atas,” tanya Soojung.

“Itu…” Jongin kebingungan. “Aku….”

Soojung melangkahkan kakinya mendekati Jongin. Jarak mereka sangat dekat sampai-sampai Jongin merasa pusing karena aroma tubuh Soojung. Ia tak pernah berada di posisi sedekat ini dengan Soojung.

“Kau tahu, Jongin. Aku selalu menunggumu untuk mengajakku bicara. Aku selalu mengawasimu. Sama seperti kau selalu mengawasiku. Aku selalu berharap kalau kau mau mengajakku bicara. Namun yang kau lakukan hanya diam mengawasiku. Dan aku pun melakukan hal yang sama. Aku hanya bisa diam dan menunggu sampai kau benar-benar berani untuk mengajakku berbicara. Tapi nyatanya tidak. Bahkan di hari upacara kelulusan, saat kita dinobatkan sebagai siswa lulusan terbaik, kau tidak juga menyapaku atau mengajakku berbicara. Sampai aku sadar bahwa kurasa seharusnya aku yang mulai maju selangkah mendekatimu dan bukan hanya mengawasi.”

Soojung melangkahkan kakinya selangkah lagi. Membuat Jongin refleks mundur sedikit kebelakang dengan gerakan pelan. Jantung Jongin berdegup kencang sementara darahnya terasa mendidih. Gejolak aneh mulai ia rasakan dibagian perutnya. Ia merasa seakan ada ribuan kupu-kupu di dalam perutnya.

“Soojung…” ucap Jongin dengan suara tertahan.

“Hm…”

Jongin kembali mundur selangkah. Tapi Soojung cepat-cepat meraih tangan Jongin mencegah laki-laki itu untuk mundur lagi. Soojung tersenyum penuh arti kemudian tertawa pelan dan membuat dahi Jongin berkerut.

“Kenapa kau tertawa ?” tanya Jongin.

Soojung menggelengkan kepalanya dan menggigit bibir. Ia melepaskan tangan Jongin lalu berjalan hendak meninggalkan laki-laki itu keluar dari kamar. Tapi kemudian ia mundur selangkah dan berbalik ke arah Jongin.

“Jongin….” panggil Soojung.

Jongin membalikan tubuhnya menghadap Soojung. Dan seketika itu juga ia mendapatkan sebuah kecupan ringan  dari Soojung di bibirnya.

“Kau tahu, Jongin. Aku selalu mengawasimu. Karena aku menyukaimu,” katanya lalu pergi meninggalkan Jongin yang masih diam membeku di tempatnya.

“Oh, ya ampun…” Jongin menyentuh bibirnya dengan jemarinya. Wajahnya memerah dan pikirannya melayang.

 

-end-

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s