3 Seconds

exo-lays-recent-photoshoots-reveal-he-has-amazing-abs

Aku bisa membuat move on dalam hitungan 3 detik”

 ___

Rasanya aneh ketika kau diundang ke acara pernikahan mantan kekasihmu. Terlebih, kau masih menyimpan perasaan dengan mantan kekasihmu itu. Setidaknya itu yang dirasakan oleh Sara. Ya, dia diundang ke acara pernikahan mantan kekasihnya yang pernah menjalin hubungan dengannya selama hampir delapan tahun. Ia tak menyangka jika hubungan yang ia bina selama delapan tahun pada akhirnya kandas karena ketidak cocokan satu sama lain. Mungkin ini yang dinamakan tidak jodoh. Seberapa lama kau menjalin hubungan dan seberapa besar perasaanmu tertanam pada dirinya, tapi jika pada akhirnya kau tak berakhir dengannya, makan kau dan dia bukanlah jodoh.

Pahit rasanya memang. Fakta bahwa Sara dan mantan kekasihnya—Sam Carter—sudah putus dua tahun lalu. Tapi Sara masih menyimpan perasaan pada pria berkebangsaan Inggris itu. Sementara Sam sudah menemukan tambatan hati lain setahun setelah mereka putus.

Sara masih ingat saat itu keluarganya pindah dari Los Angeles ke London. Sara yang baru saja merasakan manisnya kehidupan anak SMA di London bertemu dengan Sam Carter. Bocah genius yang satu kelas biologi dengannya. Sara langsung jatuh hati di tahun pertama SMA nya pada Sam Carter. Terlebih ketika Sam mengajaknya untuk menghadiri pesta sambutan siswa baru. Dan malam saat pesta sambutan siswa baru pada waktu itu, Sam untuk pertama kalinya mengungkapkan perasaannya lalu menciumnya. Ya, ciuman pertama Sara diambil oleh Sam Carter.

Sara tidak segenius Sam yang diterima di dua universitas terbaik di Inggris. Tapi Sara berhasil mengikuti jejak Sam untuk masuk di universitas dengannya. Sara menjalani kesehariannya sebagai mahasiswa jurusan psikologi sementara Sam sebagai mahasiswa jurusan kedokteran.

Hubungan mereka berjalan sempurna. Tapi kemudian mereka putus di malam tahun baru dan setelahnya Sam pergi ke Berlin. Hubungan mereka berakhir begitu saja. Sara tak pernah lagi bertemu Sam selama dua tahun. Dan Sara rasa ia takkan pernah bertemu dengan Sam lagi. Tapi nyatanya ia salah. Ia akan segera bertemu dengan Sam lagi—dan juga istrinya—setelah lima hari yang lalu ia mendapatkan kiriman undangan dari pos surat.

Sara mematut dirinya di cermin dan mengecek penampilannya pagi itu. Tubuh langsingnya kini berbalur sebuah dress selutut berwarna abu-abu yang dipadankan dengan cardigan berenda warna putih. Ia menarik napas panjang seraya merapihkan rambutnya yang berwarna coklat tua.

Relax, Sara. Ini hanya pesta pernikaha,” ujar Sara pada dirinya sendiri. Ya, ini memang hanya pesta pernikahan. Pesta pernikahan mantan pacarmu yang masih kau sayangi dan cintai. Catat itu Sara !

Sara keluar dari dalam rumahnya dan bergegas pergi menuju pesta pernikahan Sam. Tetapi ketika ia baru saja melangkahkan kakinya keluar dari rumah, ia melihat sebuah Porsche hitam terparkir ditambah dengan seorang pria berambut gelap dan mengenakan tuksedo bersender di Porsche hitam itu.

“Lay ?” Sara berjalan ke arah Lay yang bersender di Porsche hitamnya.

“Butuh tumpangan ?” tawarnya dengan senyum merekah menampilkan dua lesung pipi yang begitu manis.

“Apa yang kau lakukan disini ?” tanya Sara dengan tangan terlipat di dada.

“Aku berjanji untuk menemanimu ke pesta pernikahan mantan kekasihmu,” kata Lay.

Sara memijat keningnya pelan. “Sudah kubilang tidak perlu.” Sara melangkahkan kakinya meninggalkan Lay. Tapi Lay dengan cepat menarik tangan Sara dan membawanya masuk ke dalam mobil. Ia bahkan memasangkan sabuk pengaman untuk Sara.

“Lay !” protes Sara sementara Lay hanya mengedipkan matanya dan menutup pintu mobilnya.

Sara tak banyak bicara sepanjang perjalanan menuju pesta pernikahan Sam. Ia memanglingkan wajahnya keluar jendela dan tak sadar jika sedari tadi Lay terus memperhatikan dirinya dari sudut matanya.

“Kau terlihat gugup,” kata Lay.

“Gugup kenapa ?” tanya Sara yang kini sudah menatap Lay dengan tatapan tidak suka. Pria yang baru saja dikenalnya selama setengah tahun ini adalah rekan kerjanya  di rumah sakit tempatnya bekerja.

Lay tersenyum miring dan mengedikan bahunya. “Bagaimana rasanya diundang ke pesta pernikahan mantan kekasihmu ? Terlebih, kau masih menyimpan perasaan dengan mantan kekasihmu.”

Mata Sara melotot ketika Lay melontarkan pertanyaan itu. “Jangan sok tahu.”

“Aku tidak sok tahu. Tapi aku memang tahu.”

Sara menghela napas. “Turunkan aku disini. Aku naik taksi saja.”

“Hei, jangan marah. Aku hanya bercanda.”

Sara mendecak kesal. Bercanda yang kelewatan Lay Zhang.

Mereka sampai di tempat dimana Sam mengadakan pesta pernikahannya. Sara keluar dengan buru-buru berniat meninggalkan Lay. Tapi nyatanya langkahnya tak lebih cepat dari Lay yang segera menyusulnya.

“Jangan biarkan kau terlihat menyedihkan di depan mantan kekasihmu.”

Sara memandang Lay kesal. “Apa ?”

“Anggap saja aku pacar barumu. Oke ?” Lay menyodorkan lengannya.

Sara lagi-lagi mendengus. “Tidak akan, Lay.”

“Itu hanya saran. Tapi percayalah, kau membutuhkanku sebagai pertahanan.”

Sara mengibaskan tangannya tak peduli lalu berjalan masuk ke dalam gedung pesta pernikahan Sam.

Pesta pernikahan Sam cukup mewah dan dihadiri oleh tamu undangan yang terlihat berkelas. Sara memang bukan tipikal orang yang rajin memantau tentang dunia hiburan. Tapi beberapa kali ia melihat beberapa aktor, aktris dan bahkan penyanyi berseliweran di ruang pesta. Kemudian Sara ingat bahwa istri Sam adalah salah satu orang paling berpengaruh dalam fashion dan kenal dengan beberapa selebriti. Tak heran jika banyak bintang besar yang menghadiri pesta pernikahan ini.

“Sara,” sebuah suara mengejutkan Sara. Suara itu terdengar sangat familiar di telinganya meskipun sudah dua tahun ia tak mendengarnya.

Sara membalikan badannya dan seketika melihat seorang pria berambut pirang tembaga dengan mata kelabu. Pria itu bersanding dengan wanita cantik yang tingginya sepuluh senti meter lebih tinggi dari Sara. Ditambah dengan high heels yang digunakan membuat wanita yang berdiri di samping pria itu terlihat sejajar.

“Hai, Sam. Selamat atas pernikahanmu,” ucap Sara berusaha untuk terdengar setulus mungkin dengan senyum tipis terukir di bibirnya.

“Terima kasih Sara. Aku senang kau datang.” Sam tersenyum lebar menampakan rasa senangnya karena Sara bersedia datang ke pesta pernikahannya. Dan itu terasa pahit bagi Sara.

“Apa ini yang namanya Sara ?” tanya wanita cantik yang berdiri di samping Sam bernama Sarah, istri Sam.

“Ini Sara. Sara, ini istriku Sarah.” Sam memperkenalkan kedua wanita itu.

“Senang bertemu denganmu, Sara.” Sarah menjabat tangan Sara yang terasa dingin.

“Ya, aku juga.”

“Kau mengenal Sam dengan baik ?” tanya Sarah.

Sara terdiam sesaat berusaha menyelidiki apakah ada sindiran di dalam pertanyaan Sarah. Tapi Sara tak melihat sedikit pun sindiran yang terbesit dalam pertanyaannya. Sara benar-benar terlalu sensitif.

“Ya, kami teman dekat. Aku mengenal Sam dengan baik,” jawab Sara.

Sarah menundukan kepalanya sejenak lalu kembali menatap Sara. “Tidak apa-apa Sara. Aku tahu mengenai hubunganmu dengan Sam. Aku minta maaf jika aku menyinggungmu.”

Ya, Sara mungkin terasa tersinggung. Tapi entah mengapa rasa tersinggung itu menghilang begitu saja saat mendengar ucapan Sarah yang terdengar begitu tulus di telinganya. Sara menatap Sarah yang terlihat bersungguh-sungguh.

Sam dan Sarah pergi meninggalkan Sara untuk menyapa tamu-tamu lain. Sementara Sara masih diam di tempatnya mengamati Sam dan Sarah yang menyapa salah satu tamu undangannya di meja dekat kue-kue kecil terhidang.

Sara menghela napas dan tangan di pipinya yang terasa panas. Matanya berkedut karena ia ingin menangis. Oh, tidak. Ini memalukan ! Jangan sampai menangis. Ya, Sara tidak boleh menangis. Ia harusnya turut bahagia karena Sam menemukan seseorang yang tepat baginya. Dan Sara yakin bahwa suatu saat ia bisa benar-benar melupakan Sam lalu bertemu dengan seseorang yang tepat untuknya.

Sara terkejut saat merasakan sesuatu yang dingin mengenai pipinya. Ia menoleh dan melihat Lay muncul seperti hantu dengan dua gelas jus apel dingin.

“Tadinya aku ingin mengambilkanmu wine atau champagne. Tapi bukankah alkohol tidak baik untuk kesehatan ? Jadi kurasa jus apel lebih baik.” Lay menyodorkan gelas berisi jus apel di tangan kanannya.

Sara menerima jus apel itu dan meminumnya sampai habis. “Terima kasih, Lay Zhang.”

“Kau benar-benar haus, ya ? Mau kuambilkan lagi ?”

Sara menggeleng dan meletakan gelasnya di meja kecil yang ada di sampingnya. Matanya kembali menatap Sam dan Sara yang masih sibuk menyapa tamu-tamu lain. Raut wajah bahagia terlihat sangat jelas di wajah mereka. Membuat Sara sekali lagi sadar bahwa Sam telah menemukan orang yang tepatnya baginya.

“Butuh saran untuk bisa move on ?” pertanyaan Lay membuat Sara menatapnya tajam.

“Tidak, terima kasih.”

Lay menganggukan kepalanya. “Aku bisa bantu kau untuk move on.”

Sara terkekeh. “Tidak, terima kasih Lay. Aku sama sekali tidak butuh bantuanmu untuk move on.”

“Aku bisa membuatmu move on dalam hitungan tiga detik.”

Sara menggelengkan kepalanya. “Ayo kita pulang. Aku lelah,” katanya lalu meninggalkan Lay. Tapi langkahnya terhenti saat Lay menahan tangannya.

“Satu…” Lay menarik tangan Sara hingga tubuh Sara berbalik menghadapnya.

“Lay lepaskan….”

“Dua….” Lay menarik pinggang Sara mendekati tubuhnya. Kini jarak antara wajahnya dengan wajah Lay hanya terpaut dua senti.

Sara membeku ketika manik hitam Lay mengunci matanya.

“Tiga….” Dan Lay menempelkan bibirnya di bibir Sara, menciumnya dengan lembut.

-end-

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s