Miss Independent

large

 

Entah sudah berapa lama mata Luhan terfokus pada suatu titik di kantornya. Lebih tepatnya, ia sedang terfokus pada seseorang. Yaitu seorang wanita bertubuh tinggi semampai dengan lekuk tubuh yang sempurna, kulit kecoklatan hasil dari berjemur, wajah klasik nan seksi, dan rambut coklat yang tergerai ke belakang. Laki-laki itu duduk di kubikelnya dengan pulpen yang terselip di bibir mungilnya

 

 

Senyum Luhan merekah ketika melihat wanita itu berjalan ke sisi lain ruangan dan menghampiri seorang lelaki berusia sekitar tiga puluh tahun yang merupakan seorang supervisor kantor tempatnya bekerja. Wanita itu bercakap-cakap serius dengan si supervisor sambil menunjukan tablet pc kepadanya. Ia terlihat sedikit menggebu-gebu ketika melontarkan kalimat demi kalimat kepada si supervisor yang biasa Luhan panggil dengan sebutan Mr. Kent.

 

NO ! ” seru wanita dengan nada tinggi membuat seluruh karyawan di ruangan yang sama mengalihkan tatapan mereka pada wanita itu. Tapi itu hanya berlangsung sebentar karena para karyawan itu kembali mengerjakan pekerjaan mereka masing-masing. Terkecuali Luhan.

 

“Psstt….Manly Boy….psssttt…..” perhatian Luhan teralih ketika mendengar sebuah suara yang berasal dari belakang. Kini  melihat Sehun, rekan kerja sekaligus orang yang tinggal bersamanya di sebuah flat kecil di salah satu sudut NYC.

 

 

What ?” Luhan mendelik kesal kearah Sehun. Ia paling tidak suka jika Sehun memanggilnya dengan sebutan “Manly Boy”. Karena itu adalah panggilan yang biasa Sehun gunakan untuk mengejeknya.

 

 

Sehun tertawa dengan gaya khas-nya yang tengil. Ia lalu mendorong kursi beroda yang di duduki dan mendekati kubikel Luhan.

 

 

“Biar kutebak. Kau pasti berkhayal yang tidak-tidak tentang Miss Sullivan,” kata Sehun dengan nada berbisik sambil menunjuk kearah wanita yang sedari tadi Luhan perhatikan. Wanita itu bernama Scarlett Sullivan. Dan dia adalah CEO di kantor tempatnya bekerja.

 

 

Luhan menyentil dahi Sehun sehingga laki-laki yang usianya empat tahun lebih muda darinya itu mengaduh kesakitan.

 

 

“Hei !” protes Sehun sambil mengelus dahinya yang memerah karena sentilan Luhan.

 

 

Back to work, kid. Kau baru tiga bulan bekerja disini. Dan kau tak mau dipecat karena mengobrol saat jam bekerja, kan ?” kata Luhan sambil mengecek proposal yang sedang ia kerjakan.

 

 

Sehun mengerucutkan bibirnya. Tapi alih-alih kembali ke kubikelnya, Sehun masih diam di tempatnya dan kembali bersiap menggoda Sehun.

 

 

“Dia seksi seperti Miranda Kerr,” gumam Sehun dengan senyum lebar di bibirnya.

 

 

Luhan terkekeh pelan. “She’s sexier than Miranda Kerr, kid,” ucap Luhan tanpa sadar membuatnya membeku sesaat.

 

 

Sehun tersenyum jahil kearah Luhan. “Do you think so, Lu ? Haruskah aku mengajaknya berkencan lalu membawanya ke flat ?” kalimat yang baru saja Sehun lontarkan membuat ia mendapati sentilan kedua dari Luhan.

 

 

“Aww !! Stop doing that, Lu ! Sakit,” desis Sehun.

 

 

“Kau mau selingkuh dari Stella, begitu ?”

 

 

Sehun menggelengkan kepalanya. “Aku kan hanya bercanda. Lagipula, gadis seksi bukanlah tipeku,” kata Sehun membuat Luhan kembali terkekeh.

 

 

“Apa kau tahu berapa umur Scarlett, Lu ?” tanya Sehun membuat.

 

 

“Aku tidak tahu. Mungkin dua puluh enam atau dua puluh tujuh tahun,” sahut Luhan.

 

 

“Wahh !! Dia masih muda dan sudah bisa menjadi seorang CEO ?!” kata Sehun kagum. “Dan dia hanya setahun lebih tua atau setahun lebih muda darimu, Luhan.”

 

 

“Lantas kenapa kalau dia lebih tua atau lebih muda dariku ?” tanya Luhan dengan mata yang terfokus pada layar komputer.

 

 

Ask her for a date.”

 

 

Luhan menatap Sehun dengan mata membelalak lebar. “Are you crazy, Sehun Oh ?”

 

 

What ? Ayolah, Luhan ! Apa salahnya mengajaknya berkencan ? Lagipula aku sama sekali tidak pernah melihatmu berkencan dengan wanita manapun semenjak…..” Sehun terdiam sebentar. “semenjak kau putus dengan Ashley Lang empat tahun lalu.”

 

 

Luhan terdiam mendengar kata-kata Luhan. Matanya kini kembali tertuju pada Scarlett Sullivan yang kini sudah berpindah tempat ke sudut lain ruangan. Ia sedikit terkejut ketika mendapati Scarlett tiba-tiba saja menatap kearahnya. Luhan cepat-cepat mengalihkan tatapannya kearah layar komputer, menyelesaikan proposal yang sedang ia kerjakan. Dengan begitu ia bisa segera pulang ke apartemennya.

 

-OO-

 

 

“Luhan, aku duluan, ya,” ujar Sehun ketika jam kerja mereka berakhir.

 

 

Luhan yang saat itu masih mengerjakannya proposal terakhirnya menoleh kearah Sehun yang kini sudah berdiri sambil mengenakan mantelnya.

 

 

“Kau tak pulang bersamaku ?” tanya Luhan.

 

 

“Hari ini Stella ulang tahun. Aku akan kerumahnya untuk makan malam bersamanya. Kau tahu, agak sedikit mengerikan mendengar Stella memasak.”

 

 

Luhan tertawa mendengar celotehan Sehun. “Dia pasti bekerja keras untuk membuatmu terkesan dengan masakannya, Sehun. Apapun yang terjadi, entah masakannya enak atau tidak, kau harus tetap memujinya.”

 

 

Sehun menunjukan ekspresi wajah tak senang. “Stella itu seperti cenayang. Aku tak mungkin bohong padanya. Dia bisa tahu apakah aku mengatakan hal jujur atau tidak dengan melihat wajahku. Katanya aku seperti buku yang terbuka dan semua orang bisa membacanya.”

 

 

Luhan tersenyum lebar. Jari-jari lentiknya masih terus menari di atas papan ketik. “Berikan Stella bunga atau apapun yang romantis agar ia merasa senang. Buatlah  ulang tahunnya spesial.”

 

 

“Yeah, aku mengerti, Lu. Aku sudah mempersiapkan hal yang lebih romantis dibandingkan sebuket bunga. Aku pergi dulu, Lu. Sampai jumpa !” Sehun menepuk bahu Luhan dan meninggalkannya sendiri. Tinggalah Luhan sendirian di kantor, sibuk menyelesaikan proposalnya.

 

 

Ketika Luhan akhirnya berhasil menyelesaikan proposal terakhirnya, Luhan menyenderkan tubuhnya kesandaran kursi. Ia menjulurkan tangannya ke atas lalu menguap lebar. Waktu sudah menunjukan pukul delapan malam. Jika saja ia tak harus menyelesaikan bertumpuk-tumpuk laporan serta proposal yang dilimpahkan padanya, mungkin ia sudah bisa bermalas-malasan di sofa dan menontonton serial NCIS serta makan sepiring lasagna.

 

 

Luhan berdiri dari tempatnya duduk dan melonggarkan sedikit dasi yang terasa mencekik leher. Ia meminum segelas air lalu mengambil mantel serta mantelnya dan berjalan keluar ruangan menuju lift. Luhan memencet tombol lift dan langsung masuk kedalamnya sebelum pintu kembali tertutup.

 

 

Wait !” seru seseorang sambil menahan pintu lift yang hendak tertutup dan meninggalkan celah sedikit dengan tangannya sehingga pintu kembali terbuka.

 

 

Mata Luhan melebar ketika melihat Scarlett Sullivan berdiri di depannya. Wanita itu tersenyum miring lalu masuk kedalam lift sambil menggelung rambutnya keatas. Luhan berdiri diam di tempatnya dengan detak jantung yak tak karuan. Suhu ruangan mendadak menjadi lebih hangat dan membuat Luhan sedikit berkeringat.

 

 

“Kau, Luhan, ya ?” tanya Scarlett tiba-tiba membuat Luhan segera menatap wanita itu dengan ekspresi wajah terkejut.

 

 

“Ya, aku Luhan, Miss,” sahut Luhan canggung.

 

 

Scarlett menganggukan kepalanya dan tersenyum. “Apa kau langsung pulang kerumah ?” tanyanya.

 

 

Luhan segera mengangguk. “Ya, Miss Sullivan. Bagaimana dengan Anda ?”

 

 

“Aku harus menemui seorang klien terlebih dahulu. Aku benar-benar kesal asistenku ambil cuti sehingga aku harus menemui klien itu sendirian,” kata Scarlett lalu mendengus.

 

 

“Kalau Anda mau, saya bisa menemani Anda,” ucap Luhan begitu saja tanpa ia sadari. Luhan merutuki dirinya sendiri karena mengucapkan kalimat itu.

 

 

Scarlett menatap Luhan sebentar dengan tatapan yang sama sekali tak bisa diartikan oleh Luhan.

 

 

“Kau bisa menyetir, Luhan ?”

 

-OO-

 

 

 

Selesai menemui klien, Scarlett meminta Luhan untuk berhenti di sebuah restoran Italia tak jauh dari cafe tempat mereke menemui si klien. Awalnya Scarlett ingin makan di cafe tersebut. Tapi mendadak ia ingin makan lasagna.

 

 

Luhan memarkirkan mobil Scarlett setelah itu turun dari dalam mobil diikuti oleh Scarlett yang kini sudah berjalan sejajar dengannya. Ia agak sedikit tercengang ketika menyadari bahwa Scarlett membawanya kesebuah restoran Italia paling bergengsi di NYC. Otak Luhan mulai berpikir apa yang akan ia pesan nanti saat di dalam. Dan sepertinya ia harus merelakan empat hari uang makan siangnya untuk membeli menu paling murah di restoran ini.

 

 

“Malam ini aku yang traktir. Oke ?” ujar Scarlett begitu saja membuat Luhan melihatnya tak percaya. Awalnya ia ingin menyangkal tidak usah. Tapi sepertinya untuk saat ini, ego seorang pria yang tertanam alami dalam dirinya harus disangkal habis-habisan. Luhan tak mau mengorbankan uang makan siang selama empat hari-nya hanya demi sepiring pasta paling murah.

 

 

Mereka masuk kedalam restoran Italia itu dan langsun disambut oleh seorang pria yang merupakan pramusaji. Di dalam, Luhan bisa mencium aroma keju serta rempah-rempah yang membaur dengan pewangi ruangan. Aroma-nya agak sedikit aneh, tapi itu sama sekali tak mengganggu Luhan.

 

 

“Disini lagsana-nya terkenal enak. Kau mau coba ?” tawar Scarlett.

 

 

Luhan menganggukan kepalanya dan tersenyum lebar. Dia sangat mencintai lasagna melebihi apapun di dunia ini. Dia bahkan bisa menghabiskan seloyang besar lasagna di hari libur sambil menonton serial tv favoritnya.

 

 

 

Sementara Scarlett sibuk memesan makanan untuk mereka, Luhan mengalihkan perhatiannya pada ponsel yang bergetar di saku celananya. Luhan merogoh saku celananya lalu mengambil ponselnya. Sebuah pesan singkat masuk, dan pesan itu dari Sehun.

 

 

From  : Sehun Oh

Stella memasak lasagna, dan aku terkejut dengan rasanya.

Ini sangat enak !!! ^^ Kau mau, Lu ? Jika kau mau aku bisa meminta Stella untuk membawakanmu beberapa.

 

 

Luhan tersenyum melihat pesan dari Sehun dan segera membalasnya.

To : Sehun Oh

Tidak perlu. Aku sedang makan lasagna sekarang di salah satu restoran Italia paling bergengsi di NYC. Dan kau bisa tebak aku makan dengan siapa ?

Aku makan dengan Scarlett Sullivan :p

 

 

Belum lama Luhan mengirim balasan pesan singkatnya, Sehun sudah kembali mengirim balasan.

 

 

From : Sehun Oh

WHAT ???!!! YOU ASK HER FOR A DATE ??

 

 

Alih-alih membalas, Luhan memasukan ponselnya kembali kedalam saku celana. Ia yakin saat ini Sehun gelisah setengah mati dan merajuk pada Stella karena penasaran dengan jawaban Luhan. Biar sajalah, pikir Luhan.

 

 

“Pesan dari pacarmu ?” tanya Scarlett yang tanpa Luhan sadari sedaritadi wanita itu sedang memperhatikannya.

 

 

“Bukan. Tapi dari teman yang tinggal satu flat denganku,” jelas Luhan.

 

 

Scarlett membulatkan bibirnya dan menopangkan dagunya dengan satu tangan. “Boleh aku tanya sesuatu ?”

 

 

“Ya, Miss,” sahut Luhan.

 

 

Scarlett terkekeh. “Jangan kaku begitu. Diluar kantor kau bisa memanggilku ‘Scarlett’.”

 

 

Luhan tertawa canggung. “Yepp !! Scarlett. Apa yang ingin kau tanyakan ?”

 

 

Scarlett sedikit menyipitkan matanya dan menatap Luhan. “Do you have a girlfriend ?”

 

 

Mulut Luhan sedikit menganga lebar ketika Scarlett menanyakan hal itu.

 

 

Seorang pramusaji datang membawa pesanan mereka membuat percakapan canggung mereka terpotong. Dan Luhan bersyukur hal itu. Luhan meraih segelas air putih yang baru saja dituangkan si pramusaji dan meneguknya sedikit. Setelah itu tangannya meraih garpu dan mulai mencoba lasagna khas restoran Italia paling tersohor di seluru penjuru New York. Tapi Luhan sama sekali tak berfokus pada makanannya.

 

 

Luhan menatap Scarlett yang kini sedang menatapnya. Kemudian ia teringat akan pertanyaan Scarlett lalu menggelengkan kepalanya seraya menjawab, “Aku tak punya pacar.”

Senyum lebar merekah di bibir Scarlett. Ia meraih garpunya dan mulai memakan lasagna-nya dengan lahap. Luhan-pun ikut makan dengan tenang. Walau tak dipungkiri kini detak jantungnya berpacu lebih cepat dari sebelumnya.

 

 

“Kalau kau tak punya pacar,” Scarlett kembali membuka obrolan mereka. “Would you be my boyfriend ?”

 

 

Luhan tersedak lagsana-nya sendiri ketika mendengar kalimat yang baru saja dilontarkan Scarlett. Ia terbatuk-batuk sementara Scarlett menyodorkan segelas air padanya. Luhan langsung meneguk air minumnya hingga habis dan menyeka bibirnya dengan serbet.

 

 

Are you alright ?” tanya Scarlett khawatir.

 

 

Luhan menarik napas berat dan berusaha menghirup udara sebanyak-banyaknya. “Yeah….I’m alright.”

 

-OO-

 

Is it okay if you back to your home with subway ?” tanya Scarlett ketika Luhan menghentikan mobil Scarlett di stasiun kota.

 

 

Luhan menganggukan kepalanya. “Tak lazim jika kau mengantarku pulang.”

 

 

Scarlett mengangguk mengerti. “Okay.”

 

 

“Kalau begitu aku pergi dulu. Terima kasih traktirannya. Lain kali aku akan mengajakmu makan dan aku akan membayarnya untukmu. Walaupun….yeah, aku mungkin hanya bisa mengajakmu makan di restoran Italia biasa. Kantongku tak cukup jika harus mentraktirmu di restoran seperti tadi.”

 

 

Scarlett tertawa mendengar gurauan Luhan. “Thanks for tonight, Luhan.”

Luhan mengangguk lalu melepaskan sabuk pengamannya dan hendak membuka pintu. Tapi belum sempat ia membuka pintu, Scarlett menarik bahunya membuat Luhan menoleh. Matanya membelalak ketika Scarlett mencium bibirnya.

 

 

Good night, Luhan.” Katanya dengan tawa kecil karena melihat wajah Luhan memerah.

 

 

Luhan yang masih shock hanya tersenyum canggung dan keluar dari mobil Scarlett. Laki-laki itu berjalan memasuki stasiun dengan langkah gontai. Wajah Scarlett seketika memenuhi kepalanya. Luhan menepuk-nepuk pipinya sendiri berusaha kembali mengembalikan kesadarannya.

 

 

“Kurasa aku akan mimpi indah malam ini,” gumam Luhan pada dirinya sendiri.

 

END

 

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s